9.11.2008

Kisah Nada dan Solidaritas Dunia


Kompas, Sabtu, 30 Agustus 2008 | 03:00 WIB

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO /
Presiden dan Ny Ani Yudhoyono yang berperan sebagai kurir surat menerima dua anak manusia yang dipertemukannya, yaitu Nada Lutfiyyah (berjilbab) dan Maggie Hamilton (kedua dari kiri), di Wisma Negara, Jakarta, Sabtu (16/8). Kedua anak ini dipertemukan secara fisik karena undangan Presiden Yudhoyono. Nada sedang memasang gelang tanda persahabatan keduanya yang terbangun karena bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam akhir tahun 2004

Oleh: WISNU NUGROHO

Gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter dengan pusat di sekitar Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, disusul tsunami di wilayah sepanjang Samudra Hindia, mengguncang dan menerjang Asia, Afrika, dan dunia. Namun, ”gempa susulan” yang disebarkan jaringan media massa menerjang hati umat manusia sejagat.

Pemberitaan tentang bencana yang menelan lebih dari 200.000 nyawa di Aceh menjadi seperti ajakan untuk membangun solidaritas sejagat. Jika gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter menghadirkan tsunami, ”gempa susulan” karena pemberitaan atas bencana itu telah menghadirkan solidaritas dunia.

Belum pernah dalam sejarah dunia umat manusia yang berbeda dalam berbagai segi kehidupannya dan terpisahkan jarak ribuan kilometer bersatu padu. Bencana alam terbesar keempat dalam sejarah dunia yang menelan wilayah darat di sepanjang pantai barat Aceh menjadi pemersatunya.

Solidaritas dunia ternyatakan dalam beragam bentuk setelahnya. Ada yang segera datang ke Aceh menolong mereka yang selamat, mencari yang hilang, dan menguburkan yang meninggal. Ada yang datang dengan berbagai bantuan kesehatan. Ada yang datang dengan makanan dan sarana lain untuk mempertahankan hidup, seperti tenda dan pakaian.

Aceh yang masih dilanda konflik karena isu separatisme dan karena itu diisolasi dari dunia internasional tiba-tiba dibuka untuk semua bangsa di dunia. Isolasi atas Aceh tak diberlakukan lagi karena alasan yang lebih hakiki, yaitu kemanusiaan.

Awalnya ada kekhawatiran. Namun, kekhawatiran itu perlahan hilang. Kepercayaan yang muncul setelah menyaksikan ketulusan mereka yang datang memberikan bantuan sebagai ungkapan solidaritas kemanusiaan mengikis kekhawatiran.

Nada dan Maggie

Ketulusan itu pula yang menyatukan perbedaan dan menghubungkan jauhnya jarak antara Nada Lutfiyyah dan Maggie Hamilton. Keduanya saat pertama kali saling berhubungan berusia 9 tahun.

Nada adalah korban gempa bumi dan tsunami yang selamat meskipun kehilangan ayah, ibu, saudara, teman, rumah, dan lingkungan tempatnya biasa bermain menikmati masa kanak-kanaknya. Maggie adalah murid sekolah dasar Charlevoix, Michigan, Amerika Serikat (AS).

Keduanya dipertemukan oleh sejarah yang mengalir menyusuri hati karena alasan solidaritas kemanusiaan. Maggie yang tulus dan terketuk hatinya melihat tayangan televisi soal gempa bumi dan tsunami di Aceh menulis surat untuk teman-teman seusianya di Aceh.

Tidak tahu ke mana surat akan dialamatkan, sekolah tempat Maggie bermain dan belajar mengirimkan surat itu ke Gedung Putih. Surat itu kemudian sampai ke Nada dan dibalas dengan ketulusan yang sama kepada Maggie dengan jalan yang panjang.

Surat Maggie dikenali pertama oleh Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal saat pertemuan dengan mitra kerjanya di Gedung Putih, Washington DC, awal tahun 2005. Terharu dengan ketulusan Maggie, Dino menawarkan untuk membawa surat itu ke Indonesia.

Kedekatan Dino dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memudahkan terkirimnya surat Maggie ke anak-anak korban gempa bumi dan tsunami di Aceh. Seperti Dino, Presiden sangat tertarik dengan surat Maggie dan segera memberi instruksi agar surat disampaikan ke anak-anak di Aceh.

”Sampaikan surat ini kepada (Kepala BRR) Pak Kuntoro. Sampaikan permintaan saya agar beliau dapat meneruskan surat ini kepada anak-anak di Aceh. Biarlah mereka membacanya dan mudah-mudahan salah satu dari mereka dapat membalas surat ini. Perhatikan hal ini baik-baik dan laporkan terus kepada saya,” ujar Presiden seperti dikutip Dino dalam buku Harus Bisa yang ditulisnya.

Tak lama kemudian, surat Maggie sampai kepada Nada—yang karena yatim piatu—saat itu tinggal bersama pamannya di Banda Aceh. Nada membalas surat Maggie dengan melampirkan ikatan rambut untuk Maggie. Namun, surat tidak langsung dikirimkan karena Presiden Yudhoyono ingin menjadi kurir bagi kedua anak ini.

Dalam kunjungan ke Amerika Serikat, Presiden Yudhoyono ingin membacakan surat menyurat Maggie dan Nada. Kebetulan pada 25 Mei 2005, Presiden George W Bush mengundang Presiden Yudhoyono berpidato pada acara The Asia Pacific American Heritage Event di Gedung Putih.

Surat Maggie yang dibacakan Presiden Yudhoyono berbunyi, ”Hi, I hope your family and friends are okay. In church, I pray for you and your country. In school, we are raising money for your country. We have a loose change bucket and kids bring money in. Also, we are making tsunami bracelets to raise money too. I have made you one. I hope you like it. I will continue praying for you and your country in church. Your friend, Maggie.”

Presiden Yudhoyono lantas membaca surat balasan Nada setelah menunjukkan foto Nada yang terbalik dan dibetulkan oleh Presiden Bush dari podium.

Berikut bunyi surat balasan Nada yang sudah dialihbahasakan dan dibacakan Presiden Yudhoyono, ”My good friend, hello friend. My name is Nada Lutfiyyah. I was so happy and my heart was touched to receive the letter you sent us. My family—my dad, mom, older brother and younger brother—have disappeared, and now I live with my cousin. I am so glad you are paying attention to us here. I hope to receive your bracelet in the coming days because I want to wear it on my arm to remind me that I have a new friend.”

Seusai jumpa pers itu, surat balasan Nada dikirimkan kepada Maggie oleh Duta Besar Indonesia di AS Soemadi Brotodiningrat.

Pertemuan itu...

Dalam peringatan setahun gempa bumi dan tsunami Aceh, Nada berkesempatan bertemu Presiden Yudhoyono di Ulelee, Aceh. Namun, kerinduan utama Nada adalah dapat bertemu dengan Maggie yang memberinya segenggam harapan akan masa depan.

Setelah hampir empat tahun gempa bumi dan tsunami di Aceh, Nada dan Maggie diberi kesempatan untuk bertemu.

Dalam peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke-63 Republik Indonesia di Istana Negara, kedua anak yang kini berusia 12 tahun ini diundang Presiden Yudhoyono.

Sehari sebelum peringatan HUT RI, Presiden dan Ny Ani Yudhoyono menerima Nada, Maggie, dan keluarganya di Wisma Negara. Kegembiraan terpancar dari wajah kedua anak yang dipersatukan karena bencana ini. Meskipun ayah, ibu, kakak, adik, dan saudara tidak bisa kembali karena tertelan tsunami, Nada mendapat harapan untuk hidupnya lewat perhatian semua orang, terutama Maggie.

Nada menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Yudhoyono yang telah menumbuhkan persahabatan dan harapan antara dirinya dan Maggie.

”Saya senang akhirnya bertemu Maggie,” ujar Nada yang kini berkerudung. Ungkapan serupa disampaikan Maggie yang datang ke Indonesia 13-26 Agustus bersama ayah dan ibunya.

Saat diterima di Wisma Negara, Nada dan Maggie bergantian memasangkan gelang warna-warni yang telah mereka buat secara khusus sebagai tanda persahabatan ke pergelangan tangan Presiden dan Ny Ani Yudhoyono.

Khusus kepada Presiden dan Ny Ani Yudhoyono, Nada memberikan beberapa bungkus kopi Aceh yang sangat terkenal kenikmatannya. Tak ada kata-kata penjelas maksud pemberian kopi Aceh kepada Presiden Yudhoyono. Yang jelas, setelah gempa bumi dan tsunami di Aceh, kopi Aceh makin dicecap banyak lidah dan tentu saja kenikmatannya makin tersebar luas.

Nada ingin Presiden dan Ny Ani Yudhoyono merasakan kenikmatan kopi yang sama. Dengan kopi itu, Nada ingin Presiden tidak terganggu rasa kantuk untuk terus memerhatikan dan memperjuangkan hidup jutaan anak-anak lain di negeri ini yang mengalami bencana dalam hidup mereka masing-masing.

Bagi Nada kini, kiamat sudah lewat tertelan tsunami. Harapan baru dengan cita-cita mulia menjadi dokter kini hendak diwujudkannya.

Tidak ada komentar: