
Kompas, Sabtu, 30 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Presiden dan Ny Ani Yudhoyono yang berperan sebagai kurir surat menerima dua anak manusia yang dipertemukannya, yaitu Nada Lutfiyyah (berjilbab) dan Maggie Hamilton (kedua dari kiri), di Wisma Negara, Jakarta, Sabtu (16/8). Kedua anak ini dipertemukan secara fisik karena undangan Presiden Yudhoyono. Nada sedang memasang gelang tanda persahabatan keduanya yang terbangun karena bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam akhir tahun 2004
Oleh: WISNU NUGROHO
Gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter dengan pusat di sekitar Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, disusul tsunami di wilayah sepanjang Samudra Hindia, mengguncang dan menerjang Asia, Afrika, dan dunia. Namun, ”gempa susulan” yang disebarkan jaringan media
Pemberitaan tentang bencana yang menelan lebih dari 200.000 nyawa di Aceh menjadi seperti ajakan untuk membangun solidaritas sejagat. Jika gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter menghadirkan tsunami, ”gempa susulan” karena pemberitaan atas bencana itu telah menghadirkan solidaritas dunia.
Belum pernah dalam sejarah dunia umat manusia yang berbeda dalam berbagai segi kehidupannya dan terpisahkan jarak ribuan kilometer bersatu padu. Bencana alam terbesar keempat dalam sejarah dunia yang menelan wilayah darat di sepanjang pantai barat Aceh menjadi pemersatunya.
Solidaritas dunia ternyatakan dalam beragam bentuk setelahnya.
Aceh yang masih dilanda konflik karena isu separatisme dan karena itu diisolasi dari dunia internasional tiba-tiba dibuka untuk semua bangsa di dunia. Isolasi atas Aceh tak diberlakukan lagi karena alasan yang lebih hakiki, yaitu kemanusiaan.
Awalnya ada kekhawatiran. Namun, kekhawatiran itu perlahan hilang. Kepercayaan yang muncul setelah menyaksikan ketulusan mereka yang datang memberikan bantuan sebagai ungkapan solidaritas kemanusiaan mengikis kekhawatiran.
Nada dan Maggie
Ketulusan itu pula yang menyatukan perbedaan dan menghubungkan jauhnya jarak antara Nada Lutfiyyah dan Maggie Hamilton. Keduanya saat pertama kali saling berhubungan berusia 9 tahun.
Nada adalah korban gempa bumi dan tsunami yang selamat meskipun kehilangan ayah, ibu, saudara, teman, rumah, dan lingkungan tempatnya biasa bermain menikmati masa kanak-kanaknya. Maggie adalah murid sekolah dasar
Keduanya dipertemukan oleh sejarah yang mengalir menyusuri hati karena alasan solidaritas kemanusiaan. Maggie yang tulus dan terketuk hatinya melihat tayangan televisi soal gempa bumi dan tsunami di Aceh menulis
Tidak tahu ke mana
Surat Maggie dikenali pertama oleh Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal saat pertemuan dengan mitra kerjanya di
Kedekatan Dino dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memudahkan terkirimnya
”Sampaikan surat ini kepada (Kepala BRR) Pak Kuntoro. Sampaikan permintaan saya agar beliau dapat meneruskan surat ini kepada anak-anak di Aceh. Biarlah mereka membacanya dan mudah-mudahan salah satu dari mereka dapat membalas surat ini. Perhatikan hal ini baik-baik dan laporkan terus kepada saya,” ujar Presiden seperti dikutip Dino dalam buku Harus Bisa yang ditulisnya.
Tak lama kemudian, surat Maggie sampai kepada Nada—yang karena yatim piatu—saat itu tinggal bersama pamannya di Banda Aceh. Nada membalas surat Maggie dengan melampirkan ikatan rambut untuk Maggie. Namun, surat tidak langsung dikirimkan karena Presiden Yudhoyono ingin menjadi kurir bagi kedua anak ini.
Dalam kunjungan ke Amerika Serikat, Presiden Yudhoyono ingin membacakan surat menyurat Maggie dan Nada. Kebetulan pada 25 Mei 2005, Presiden George W Bush mengundang Presiden Yudhoyono berpidato pada acara The Asia Pacific American Heritage Event di Gedung Putih.
Surat Maggie yang dibacakan Presiden Yudhoyono berbunyi, ”Hi, I hope your family and friends are okay. In church, I pray for you and your country. In school, we are raising money for your country. We have a loose change bucket and kids bring money in. Also, we are making tsunami bracelets to raise money too. I have made you one. I hope you like it. I will continue praying for you and your country in church. Your friend, Maggie.”
Presiden Yudhoyono lantas membaca
Berikut bunyi
Seusai jumpa pers itu,
Pertemuan itu...
Dalam peringatan setahun gempa bumi dan tsunami Aceh, Nada berkesempatan bertemu Presiden Yudhoyono di Ulelee, Aceh. Namun, kerinduan utama Nada adalah dapat bertemu dengan Maggie yang memberinya segenggam harapan akan masa depan.
Setelah hampir empat tahun gempa bumi dan tsunami di Aceh, Nada dan Maggie diberi kesempatan untuk bertemu.
Dalam peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke-63 Republik Indonesia di Istana Negara, kedua anak yang kini berusia 12 tahun ini diundang Presiden Yudhoyono.
Sehari sebelum peringatan
Nada menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Yudhoyono yang telah menumbuhkan persahabatan dan harapan antara dirinya dan Maggie.
”Saya senang akhirnya bertemu Maggie,” ujar Nada yang kini berkerudung. Ungkapan serupa disampaikan Maggie yang datang ke
Saat diterima di Wisma Negara, Nada dan Maggie bergantian memasangkan gelang warna-warni yang telah mereka buat secara khusus sebagai tanda persahabatan ke pergelangan tangan Presiden dan Ny Ani Yudhoyono.
Khusus kepada Presiden dan Ny Ani Yudhoyono, Nada memberikan beberapa bungkus kopi Aceh yang sangat terkenal kenikmatannya. Tak ada kata-kata penjelas maksud pemberian kopi Aceh kepada Presiden Yudhoyono. Yang jelas, setelah gempa bumi dan tsunami di Aceh, kopi Aceh makin dicecap banyak lidah dan tentu saja kenikmatannya makin tersebar luas.
Nada ingin Presiden dan Ny Ani Yudhoyono merasakan kenikmatan kopi yang sama. Dengan kopi itu, Nada ingin Presiden tidak terganggu rasa kantuk untuk terus memerhatikan dan memperjuangkan hidup jutaan anak-anak lain di negeri ini yang mengalami bencana dalam hidup mereka masing-masing.
Bagi Nada kini, kiamat sudah lewat tertelan tsunami. Harapan baru dengan cita-cita mulia menjadi dokter kini hendak diwujudkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar