Tampilkan postingan dengan label Topik Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Topik Utama. Tampilkan semua postingan

9.19.2008

86 tahun

Polykarpus sedang berdoa di dalam kamarnya di loteng ketika pasukan bersenjata lengkap dating mengepung rumah kecil di perkebunan terpencil itu. Ruparupanya salah satu pelayan yang pernah melayaninya telah membocorkan tempat persembunyiannya setelah disiksa dengan kejam oleh tentara Romawi. Polykarpus yang berusia 86 tahun pada waktu itu dengan tenang turun ke ruang bawah dan para prajurit yang ditugaskan untuk menangkapnya langsung kaget karena mereka tidak tahu bahwa Polykarpus yang sedang diburu dengan gencar oleh pihak Romawi itu adalah seorang yang sudah begitu lanjut usianya. Dalam hati mereka bertanya-tanya ada apa dengan orang tua ini yang membuatnya begitu dibenci oleh pemerintah Romawi. Polykarpus lalu meminta pelayan - pelayannya untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk menjamu tamu yang tidak diundangnya itu. Ia juga meminta diberikan waktu 1 jam untuk berdoa tanpa diganggu. Polykarpus tidak mendoakan dirinya tetapi menaikkan doa syafaat bagi orang lain. Namun karena terlalu banyak orang yang didoakan oleh Polykarpus, ia baru menyelesaikan doanya setelah dua jam. Akhirnya ia dibawa ke kota dan disambut oleh kepala keamanan kota yang bernama Herod dan ayahnya, Nicetes.

Herod dan Nicetes membawa Polykarpus ke dalam kereta kuda mereka dan dengan lembut coba membujuk Polykarpus. "Apa salahnya untuk mengatakan bahwa Kaisar adalah Penguasamu, dan menyembahnya?" Segala macam cara mereka pakai untuk membujuknya, tetapi Polykarpus berkata, "Aku tidak akan melakukan apa yang engkau minta." Karena tidak berhasil, Polykarpus akhirnya didorong dengan kasar dari kereta kuda dan diseret ke stadion tempat para pemimpin Romawi sedang menantinya. Setelah memastikan identitas Polykarpus, Pemimpin Romawi itu dengan lembut coba membujuknya untuk menyangkal Kristus, "Pikirkanlah tentang usia engkau, akuilah kebesaran Kaisar dan bertobatlah. Kutuklah Kristus, dan kami akan membebaskan engkau; Katakanlah engkau tidak ada hubungan apa-apa dengan Dia."

Polykarpus lalu menjawab, "Aku telah mengikuti Dia selama 86 tahun, dan Dia tidak pernah berbuat salah terhadap aku. Bagaimana mungkin aku menista Raja yang telah menyelamatkan aku?" Walaupun jengkel dan marah tetapi mungkin karena usia tuanya, mereka terus membujuknya, "Bersumpahlah oleh kebesaran Kaisar." Polykarpus hanya berkata, "Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah seorang Kristen, jika engkau mau mendengarkan kebenaran
Kekristenan, berilah aku waktu dan tempat untuk menjelaskan." Jawaban Polykarpus semakin membuat semua yang mendengarkan menjadi berang. "Hewan-hewan buas yang kelaparan sudah disiapakan, jika engkau tidak mau ' bertobat ' dari ketidakpercayaan engkau kepada Kaisar engkau akan dilemparkan untuk dimakan hewan-hewan buas itu! Polykarpus menjawab, "Silakan, karena kami tidak terbiasa bertobat dari apa yang baik demi sesuatu yang jahat".

Lalu diumumkan sebanyak tiga kali kepada orang banyak yang sudah berkumpul di stadion, "Polykarpus telah mengaku bahwa ia adalah seorang Kristen." Seluruh stadion mulai berteriak-teriak meminta pemimpin Romawi melepaskan singa lapar ke tengah stadion unt uk memangsa Polykarpus. Tetapi karena pada waktu itu tidak memungkinkan untuk acara gladiator dan singa, diputuskan bahwa Polykarpus akan dibakar. "Apakah engkau sungguh tidak mau bertobat? Engkau akan kami jatuhkan hukuman mati dengan dibakar sampai hangus." Kata Polykarpus, " Engkau mengancam aku dengan api yang hanya akan membakar paling lama satu jam, setelah itu apinya padam. Tapi engkau sendiri bodoh dengan tidak menyadari tentang api penghakiman yang kekal, yang telah dipersiapkan untuk orangorang yang tidak percaya. Apa lagi yang engkau tunggu? Lakukanah apa yang engkau mau lakukan!" Mendengarkan itu, orang banyak yang bagaikan dirasuk setan mulai mengumpulkan kayu dan bahanbahan kayu dari toko-toko dan tempat permandian umum.

Dengan cepat tumpukan kayu sudah terkumpul. Polykarpus lalu menanggalkan jubahnya dan melonggarkan pakaiannya, dan ia coba juga untuk menanggalkan sepatunya. Di saat ada yang mau memakukan kaki dan tangannya ke atas kayu supaya ia tidak akan coba melarikan diri waktu api mulai memanas, Polykarpus berkata, "Biarkan saja; jika Tuhan memberi aku kekuatan untuk dibakar di dalam api ini, Ia akan memampukan aku untuk tetap bertahan di atas gumpalan api ini." Lalu mereka tidak jadi memakunya tetapi sekadar mengikat tangannya di belakang seperti seekor domba yang akan dibawa ke tempat sembelihan. Lalu Polykarpus menaikkan doanya yang terakhir, "Aku bersyukur Engkau telah mengaruniakan kepada aku hari ini dan saat ini, di mana aku dapat mengambil bagian di antara para martir untuk dibangkitkan kepada hidup yang kekal oleh Roh Kudus, dalam jiwa dan tubuh yang tidak akan dikorupsi lagi. Semoga aku akan diterima di dalam hadirat Engkau hari ini, sebagai persembahan yang berkenan yang telah Engkau persiapkan. Engkaulah Tuhan yang setia dan benar."

Demikianlah pada jam 2 siang, tanggal 23 Februari di tahun 155, Polykarpus, yang ditahbis menjadi uskup gereja di Smyrna oleh rasul Yohanes sendiri, mati sebagai martir bagi Kristus. Catatan tentang kemartiran Polykarpus, yang merupakan suatu fakta sejarah ditemukan di antara surat-surat Ireneus yang merupakan murid Polykarpus. Polykarpus seperti juga banyak orang percaya di zaman ini, mampu untuk mati bagi Kristus karena ia hidup untuk Kristus. Hidupnya secara radikal ditransformasi oleh pekerjaan Roh Kudus - keinginan, kekhawatiran, rasa sakit dan rasa takut tidak lagi mengikatnya. Kehidupan dan kematian Polykarpus merupakan inspirasi bagi semua orang percaya. Ia menyerahkan hidup duniawinya bagi Kristus dan di dalam pengorbanannya, ia memperoleh hidup yang kekal.

"AKU TELAH MENGIKUTI DIA SELAMA 86 TAHUN, DAN DIA TIDAK PERNAH BERBUAT SALAH TERHADAP AKU. BAGAIMANA MUNGKIN AKU MENISTA RAJA YANG TELAH MENYELAMATKAN AKU?"

9.11.2008

Kisah Nada dan Solidaritas Dunia


Kompas, Sabtu, 30 Agustus 2008 | 03:00 WIB

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO /
Presiden dan Ny Ani Yudhoyono yang berperan sebagai kurir surat menerima dua anak manusia yang dipertemukannya, yaitu Nada Lutfiyyah (berjilbab) dan Maggie Hamilton (kedua dari kiri), di Wisma Negara, Jakarta, Sabtu (16/8). Kedua anak ini dipertemukan secara fisik karena undangan Presiden Yudhoyono. Nada sedang memasang gelang tanda persahabatan keduanya yang terbangun karena bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam akhir tahun 2004

Oleh: WISNU NUGROHO

Gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter dengan pusat di sekitar Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, disusul tsunami di wilayah sepanjang Samudra Hindia, mengguncang dan menerjang Asia, Afrika, dan dunia. Namun, ”gempa susulan” yang disebarkan jaringan media massa menerjang hati umat manusia sejagat.

Pemberitaan tentang bencana yang menelan lebih dari 200.000 nyawa di Aceh menjadi seperti ajakan untuk membangun solidaritas sejagat. Jika gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter menghadirkan tsunami, ”gempa susulan” karena pemberitaan atas bencana itu telah menghadirkan solidaritas dunia.

Belum pernah dalam sejarah dunia umat manusia yang berbeda dalam berbagai segi kehidupannya dan terpisahkan jarak ribuan kilometer bersatu padu. Bencana alam terbesar keempat dalam sejarah dunia yang menelan wilayah darat di sepanjang pantai barat Aceh menjadi pemersatunya.

Solidaritas dunia ternyatakan dalam beragam bentuk setelahnya. Ada yang segera datang ke Aceh menolong mereka yang selamat, mencari yang hilang, dan menguburkan yang meninggal. Ada yang datang dengan berbagai bantuan kesehatan. Ada yang datang dengan makanan dan sarana lain untuk mempertahankan hidup, seperti tenda dan pakaian.

Aceh yang masih dilanda konflik karena isu separatisme dan karena itu diisolasi dari dunia internasional tiba-tiba dibuka untuk semua bangsa di dunia. Isolasi atas Aceh tak diberlakukan lagi karena alasan yang lebih hakiki, yaitu kemanusiaan.

Awalnya ada kekhawatiran. Namun, kekhawatiran itu perlahan hilang. Kepercayaan yang muncul setelah menyaksikan ketulusan mereka yang datang memberikan bantuan sebagai ungkapan solidaritas kemanusiaan mengikis kekhawatiran.

Nada dan Maggie

Ketulusan itu pula yang menyatukan perbedaan dan menghubungkan jauhnya jarak antara Nada Lutfiyyah dan Maggie Hamilton. Keduanya saat pertama kali saling berhubungan berusia 9 tahun.

Nada adalah korban gempa bumi dan tsunami yang selamat meskipun kehilangan ayah, ibu, saudara, teman, rumah, dan lingkungan tempatnya biasa bermain menikmati masa kanak-kanaknya. Maggie adalah murid sekolah dasar Charlevoix, Michigan, Amerika Serikat (AS).

Keduanya dipertemukan oleh sejarah yang mengalir menyusuri hati karena alasan solidaritas kemanusiaan. Maggie yang tulus dan terketuk hatinya melihat tayangan televisi soal gempa bumi dan tsunami di Aceh menulis surat untuk teman-teman seusianya di Aceh.

Tidak tahu ke mana surat akan dialamatkan, sekolah tempat Maggie bermain dan belajar mengirimkan surat itu ke Gedung Putih. Surat itu kemudian sampai ke Nada dan dibalas dengan ketulusan yang sama kepada Maggie dengan jalan yang panjang.

Surat Maggie dikenali pertama oleh Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal saat pertemuan dengan mitra kerjanya di Gedung Putih, Washington DC, awal tahun 2005. Terharu dengan ketulusan Maggie, Dino menawarkan untuk membawa surat itu ke Indonesia.

Kedekatan Dino dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memudahkan terkirimnya surat Maggie ke anak-anak korban gempa bumi dan tsunami di Aceh. Seperti Dino, Presiden sangat tertarik dengan surat Maggie dan segera memberi instruksi agar surat disampaikan ke anak-anak di Aceh.

”Sampaikan surat ini kepada (Kepala BRR) Pak Kuntoro. Sampaikan permintaan saya agar beliau dapat meneruskan surat ini kepada anak-anak di Aceh. Biarlah mereka membacanya dan mudah-mudahan salah satu dari mereka dapat membalas surat ini. Perhatikan hal ini baik-baik dan laporkan terus kepada saya,” ujar Presiden seperti dikutip Dino dalam buku Harus Bisa yang ditulisnya.

Tak lama kemudian, surat Maggie sampai kepada Nada—yang karena yatim piatu—saat itu tinggal bersama pamannya di Banda Aceh. Nada membalas surat Maggie dengan melampirkan ikatan rambut untuk Maggie. Namun, surat tidak langsung dikirimkan karena Presiden Yudhoyono ingin menjadi kurir bagi kedua anak ini.

Dalam kunjungan ke Amerika Serikat, Presiden Yudhoyono ingin membacakan surat menyurat Maggie dan Nada. Kebetulan pada 25 Mei 2005, Presiden George W Bush mengundang Presiden Yudhoyono berpidato pada acara The Asia Pacific American Heritage Event di Gedung Putih.

Surat Maggie yang dibacakan Presiden Yudhoyono berbunyi, ”Hi, I hope your family and friends are okay. In church, I pray for you and your country. In school, we are raising money for your country. We have a loose change bucket and kids bring money in. Also, we are making tsunami bracelets to raise money too. I have made you one. I hope you like it. I will continue praying for you and your country in church. Your friend, Maggie.”

Presiden Yudhoyono lantas membaca surat balasan Nada setelah menunjukkan foto Nada yang terbalik dan dibetulkan oleh Presiden Bush dari podium.

Berikut bunyi surat balasan Nada yang sudah dialihbahasakan dan dibacakan Presiden Yudhoyono, ”My good friend, hello friend. My name is Nada Lutfiyyah. I was so happy and my heart was touched to receive the letter you sent us. My family—my dad, mom, older brother and younger brother—have disappeared, and now I live with my cousin. I am so glad you are paying attention to us here. I hope to receive your bracelet in the coming days because I want to wear it on my arm to remind me that I have a new friend.”

Seusai jumpa pers itu, surat balasan Nada dikirimkan kepada Maggie oleh Duta Besar Indonesia di AS Soemadi Brotodiningrat.

Pertemuan itu...

Dalam peringatan setahun gempa bumi dan tsunami Aceh, Nada berkesempatan bertemu Presiden Yudhoyono di Ulelee, Aceh. Namun, kerinduan utama Nada adalah dapat bertemu dengan Maggie yang memberinya segenggam harapan akan masa depan.

Setelah hampir empat tahun gempa bumi dan tsunami di Aceh, Nada dan Maggie diberi kesempatan untuk bertemu.

Dalam peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke-63 Republik Indonesia di Istana Negara, kedua anak yang kini berusia 12 tahun ini diundang Presiden Yudhoyono.

Sehari sebelum peringatan HUT RI, Presiden dan Ny Ani Yudhoyono menerima Nada, Maggie, dan keluarganya di Wisma Negara. Kegembiraan terpancar dari wajah kedua anak yang dipersatukan karena bencana ini. Meskipun ayah, ibu, kakak, adik, dan saudara tidak bisa kembali karena tertelan tsunami, Nada mendapat harapan untuk hidupnya lewat perhatian semua orang, terutama Maggie.

Nada menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Yudhoyono yang telah menumbuhkan persahabatan dan harapan antara dirinya dan Maggie.

”Saya senang akhirnya bertemu Maggie,” ujar Nada yang kini berkerudung. Ungkapan serupa disampaikan Maggie yang datang ke Indonesia 13-26 Agustus bersama ayah dan ibunya.

Saat diterima di Wisma Negara, Nada dan Maggie bergantian memasangkan gelang warna-warni yang telah mereka buat secara khusus sebagai tanda persahabatan ke pergelangan tangan Presiden dan Ny Ani Yudhoyono.

Khusus kepada Presiden dan Ny Ani Yudhoyono, Nada memberikan beberapa bungkus kopi Aceh yang sangat terkenal kenikmatannya. Tak ada kata-kata penjelas maksud pemberian kopi Aceh kepada Presiden Yudhoyono. Yang jelas, setelah gempa bumi dan tsunami di Aceh, kopi Aceh makin dicecap banyak lidah dan tentu saja kenikmatannya makin tersebar luas.

Nada ingin Presiden dan Ny Ani Yudhoyono merasakan kenikmatan kopi yang sama. Dengan kopi itu, Nada ingin Presiden tidak terganggu rasa kantuk untuk terus memerhatikan dan memperjuangkan hidup jutaan anak-anak lain di negeri ini yang mengalami bencana dalam hidup mereka masing-masing.

Bagi Nada kini, kiamat sudah lewat tertelan tsunami. Harapan baru dengan cita-cita mulia menjadi dokter kini hendak diwujudkannya.

8.04.2008

Keluarga Ongkowijoyo, 25 Tahun Blusukan Panti Asuhan


Si sulung biasa nyuapi, si bungsu sumbang nyanyi.
Kekompakan keluarga Ongkowijoyo patut menjadi contoh. Hampir tiap bulan keluarga beranggota tujuh orang itu selalu menyisihkan waktu dan uang berbagi kasih dengan anak-anak panti asuhan. Bukan sekadar memberi bantuan, mereka juga menghibur warga panti dengan keterampilan seni.

*** SEKARING RATRI ADANINGGAR ***

Wanita itu sedang menyuapi seorang bocah cacat. Sesekali makanannya tercecer di pakaian si wanita. Tapi, wanita berambut sebahu tersebut seolah tak ambil pusing dengan remah-remah yang mengotori bajunya yang putih bersih.

Di sudut belakang, seorang pemuda bercanda dengan gadis cilik. Di sisi lain, seorang remaja juga sedang bermain-main dengan sekelompok anak kecil.

Ya, orang-orang dewasa itu adalah anggota keluarga Ongkowijoyo yang sedang berkunjung ke Panti Asuhan Bhakti Luhur Jumat (25/4). Keluarga tersebut memang bukan keluarga baru di lingkungan Bhakti Luhur. Hampir setiap bulan keluarga yang terdiri atas tujuh orang itu tidak pernah absen mengunjungi panti asuhan yang berlokasi di kawasan Wisma Tropodo tersebut.

Mereka selalu disambut gembira oleh para penghuni panti. "Kami sudah kenal sama Cece dan Koko Ongkowijoyo," ujar Maya, seorang penghuni panti. "Kami di sini sudah seperti adik-adiknya sendiri. Kami senang punya keluarga yang baik-baik itu," sambung Maya, bocah 10 tahun.

Saat berkunjung, keluarga Ongko selalu membawa banyak bingkisan untuk dibagikan kepada para penghuni panti. Ada snack, jelly, minuman ringan, susu, gula, minyak, dan barang-barang pokok lain. Acara pembagian selalu berlangsung tertib. Tidak ada yang berebut. "Mereka sudah terbiasa dengan makanan yang selalu dibawa keluarga Ongkowijoyo," ujar pengurus panti.

Keluarga tersebut beranggota pasangan Ongkowijoyo dengan lima putra-putrinya. Yakni, si sulung Fonny Syndi Ongkowijoyo, Selvy Syndi Ongkowijoyo, Daniel Yusuf Ongkowijoyo, Yohannes Yusuf Ongkowijoyo, dan si bungsu Carmelia Syndi Ongkowijoyo. Mereka adalah keluarga yang peduli terhadap anak-anak kurang beruntung. Keluarga yang menetap di kawasan Tandes itu pun selalu berbagi dengan sesama dalam kunjungan-kunjungan sosial ke panti-panti asuhan.

Kunjungan ke panti asuhan merupakan kegiatan rutin bulanan keluarga itu. Mereka rutin mengunjungi empat panti asuhan. Selain Bhakti Luhur, mereka rajin menyambangi Panti Asuhan Matahari Terbit, Yayasan Kartini, dan Pelayanan Kasih.

Keluarga itu sampai lupa sudah berapa kali menjalani kegiatan sosial yang jarang dilakukan keluarga-keluarga pada umumnya tersebut. Mereka hanya bisa menyebut ratusan kali. "Saya sampai lupa. Lha wong tiap bulan nggak pernah absen," tutur Fonny, si sulung.

Rutinitas keluarga Ongkowijoyo bermula pada 1993. Kala itu, Jimmy Ongkowijoyo diajak seorang rekan untuk menghadiri acara ulang tahun yang diadakan di Panti Asuhan Bhakti Luhur. Wanita 56 tahun itu pun setuju. Dia lantas mengajak empat anaknya (kecuali si bungsu, Carmelia, yang saat itu belum lahir, Red). "Waktu itu anak-anak masih kecil-kecil. Fonny, masih berusia 10 tahun," ujar Jimmy.

Kunjungan pertama segera disusul kunjungan-kunjungan berikutnya. Bedanya, setelah itu Jimmy dan anak-anak yang pergi sendiri. Tidak bersama orang lain. "Ya, saya sendiri sama anak-anak, ",ujar nenek dua cucu itu.

Berbekal dari kunjungan sosial yang rutin tersebut, muncul kepedulian sosial dari putra-putri keluarga Ongkowijoyo. "Kalau saya belum mengajak ke panti, mereka pasti akan tanya kapan ke panti," katanya.

Ibu lima anak itu mengungkapkan, tidak sulit menumbuhkan sikap kepedulian sosial pada anak-anaknya. Bahkan, tanpa disuruh, mereka rutin menyisihkan uang saku masing-masing untuk dibelikan bingkisan yang akan dibagikan kepada anak-anak panti. "Mungkin gara-gara sering saya ajak ke panti, mereka jadi terbiasa," tuturnya.

Jimmy mengaku punya masa kecil yang pahit. Wanita berambut pendek itu pernah merasakan hidup miskin. "Saya orang ndak punya. Saking miskinnya, saya sampai pernah tidak bisa makan dalam beberapa hari," kenangnya.

Kisah merana itulah yang kemudian menggugah Jimmy untuk ingat kepada kaum papa dan anak-anak yatim piatu. Kini, sikap itu menurun ke anak-anaknya, terutama Fonny, putri sulungnya.

Sejak usia 10 tahun, Fonny tidak pernah absen mengunjungi panti asuhan. Menurut wanita 28 tahun tersebut, pengalaman kali pertama berkunjung ke Panti Asuhan Bhakti Luhur adalah pengalaman yang paling berkesan. "Waktu itu ada panggung boneka. Jadi, aku masih ingat ekspresi anak-anak panti yang sueneng banget mendapat hiburan boneka," jelas ibu dua anak itu. Ekspresi gembira tersebut yang tertanam dalam memori Fonny. Sejak saat itu, dia berkomitmen untuk terus peduli dan ngopeni anak-anak yatim piatu.

Mengikuti sang kakak, Selvy juga tidak kalah semangatnya dalam aktivitas kemanusiaan itu. "Awalnya saya agak takut, tapi saya melihat kakak nyuapin sampai kadang bajunya kena ceceran makanan, kok kayak-nya nggak merasa terganggu. Akhirnya, saya juga jadi terbiasa dan senang berada di tengah anak-anak panti," kenang putri kedua keluarga Ongko itu.

Daniel, adik Selvy, lebih giat lagi. Bahkan, Daniel-lah yang kini menjadi motor utama keluarga Ongkowijoyo untuk berbakti sosial. "Sekarang aku yang selalu ngatur segala sesuatunya jika mau ke panti asuhan," ujar pria kelahiran 24 Oktober 1983 tersebut.

Di tangan Daniel, kegiatan sosial keluarga tidak melulu kunjungan anjangsana. Setahun sekali, keluarga sosial tersebut mengadakan pertunjukan seni di kompleks panti. "Ya, supaya mereka (anak-anak panti, Red) mendapat hiburan yang lain daripada yang lain," ujarnya.

Yang unik, seluruh penampilnya adalah anggota keluarga Ongkowijoyo. Fonny yang piawai menari selalu menampilkan keterampilannya menari tradisional. Daniel yang pandai melawak memilih menyajikan pertunjukan pantomim. Si bungsu Carmelia tak mau kalah. Dia yang pandai menyanyi biasanya memperdengarkan suara emasnya.

Hanya Yohannes, anak keempat, yang tak tampil dalam pertunjukan seni. Tapi, dia juga tidak tinggal diam. Dia yang selalu memimpin doa bersama. "Ya, saya kepingin jadi pendeta," ujar siswa SMA Dharma Mulia tersebut.

Tidak hanya kunjungan rutin ke panti setiap bulan. Keluarga Ongkowijoyo juga kadang menjadikan panti asuhan untuk menyelenggarakan pesta ulang tahun anak-anaknya. "Tahun kemarin (2007) kami mendatangkan barongsai ketika Carmelia berulang tahun," cetus Daniel.

Keluarga istimewa itu berniat melebarkan sayap sosialnya pada masa-masa yang akan datang. Daniel sedang merancang program penyisihan uang saku bagi para siswa atau mahasiswa. Mahasiswa Universitas Wijaya Putra itu ingin mengedarkan kotak-kotak amal di sekolah-sekolah. Kotak-kotak amal tersebut akan dikelola keluarganya untuk disalurkan ke panti-panti asuhan. Daniel menjamin tidak akan menyalahgunakan dana yang didermakan para siswa dan mahasiswa.

"Setiap bulan kami akan membuat laporan rinci terkait dana yang terkumpul dan ke mana penyalurannya. Kami tidak ingin mencoreng muka kami sendiri," tandas Daniel. (nw)